Ketika Republik Disandera Bandit

Opini171 Dilihat
banner 468x60

Puisi Republik Bandit menegaskan bahwa virus moral telah menyebar ke seluruh sendi kekuasaan. “Wajah kekuasaan semakin bopeng,” tulis sang penyair. Dan benar, dari hari ke hari, publik menyaksikan wajah kekuasaan yang makin kehilangan malu. Di negeri yang katanya menjunjung hukum, hukum justru sering tunduk pada mereka yang mampu membeli keadilan.

Namun harapan belum mati. Sejarah bangsa ini selalu bergerak ketika nurani rakyat tersentuh. Setiap kali kekuasaan menjadi alat penindasan, selalu ada yang berdiri di sisi kebenaran, meski sendirian, meski terancam. Dalam konteks itulah keberanian Purbaya menjadi simbol baru dari perlawanan moral. Ia bukan pahlawan tanpa cela, tapi kehadirannya menandakan satu hal penting, bahwa masih ada orang di dalam sistem yang berani menentang kebusukan sistem itu sendiri.

Mungkin hari ini republik ini tampak disandera bandit. Tapi selama rakyat masih berani berkata “tidak”, selama masih ada pejabat yang menolak tunduk pada uang dan kuasa, republik ini belum sepenuhnya kalah.

Sebesar apa pun kejahatan, ia tak akan berkuasa selamanya. Dan sekecil apa pun kebaikan, ia tak akan pernah binasa.

BACA JUGA :  Terkait Gugatan Praperadilan terhadap Polisi di PN Sorong, Eksepsi Tergugat Ngawur bin Bungul

Mungkin inilah saatnya kita berhenti sekadar mengutuk bandit, dan mulai menolak menjadi bagian dari mereka dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun. Karena republik ini hanya bisa diselamatkan bukan oleh satu sosok, tapi oleh jutaan warga yang menolak hidup dalam ketakutan, dalam kompromi, dan dalam kebisuan.

BACA JUGA :  Pajak adalah Saham Rakyat, Bukan Zakat

Jika kita masih memiliki keberanian moral, republik ini masih punya masa depan.
Dan ketika rakyat bangkit, bandit hanya akan jadi catatan kelam, seperti noda yang pernah menodai perjalanan bangsa, tapi akhirnya disapu oleh tangan-tangan kesatria. (*)

Komentar