Dalam suasana yang kian muram ini, muncul sosok Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom lugas yang kini memegang jabatan Menteri Keuangan. Di tengah birokrasi yang berlumut, Purbaya datang dengan keberanian yang jarang, membongkar praktik busuk di dalam institusi negara sendiri.
Langkahnya memicu gemuruh. Ia mengusik kenyamanan para bandit yang selama ini berlindung di balik sistem. Maka tak butuh waktu lama, serangan datang bertubi-tubi mulai dari narasi kebencian di ruang publik, hingga teror terhadap keluarganya.
Inilah watak sejati dari republik yang dikuasai bandit, mereka tak sekadar mencuri uang rakyat, tapi juga berusaha mematikan moral siapa pun yang berani melawan.
Namun sejarah bangsa ini telah menunjukkan, rakyat Indonesia bukan bangsa pecundang. Dari Tanah Rencong hingga Maluku, dari Surabaya hingga Papua, republik ini dibangun oleh darah para kesatria yang tak gentar menghadapi penindasan. Maka, jika kini kekuasaan kembali dirampas oleh bandit berseragam negara, rakyat punya hak moral untuk merebutnya kembali dengan cara yang beradab, dengan keberanian yang sama seperti para pendahulunya.
Nasionalisme sejati bukan sekadar kibaran bendera atau pekik “Merdeka” di mimbar upacara. Nasionalisme adalah kesetiaan kepada nilai-nilai yang melahirkan republik ini dengan keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.
Soekarno pernah berkata, “Nasionalisme tidak bisa hidup tanpa keadilan sosial.” Ketika keadilan dirampas oleh bandit, maka nasionalisme berubah menjadi topeng kosong yang menutupi kerakusan.













































Komentar