Kemarahan Anggota DPR Papua Barat Daya utusan dari Kabupaten Raja Ampat itu mencerminkan sentimen yang lebih luas di kalangan masyarakat Papua yang memandang pembakaran mahkota bukan hanya sebagai tindakan melanggar hukum, tetapi juga sebagai pelanggaran budaya. Burung Cenderawasih, yang sering disebut burung paradise, memiliki makna spiritual dan seremonial yang mendalam dalam tradisi Papua. Mahkota yang terbuat dari bulunya dikenakan dalam ritual sakral, melambangkan rasa hormat, kepemimpinan, dan hubungan manusia dengan leluhur dan alam semesta.
Kecaman keras ini telah memicu tuntutan pertanggungjawaban. “Saya meminta Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, agar serius menanggapi masalah ini, semua pelaku yang terlibat harus dihukum. Dari kalangan TNI/Polri dan ASN harus dipecat dan diberi sanksi dipenjarakan,” tegas Robert Wanma.
Para tokoh masyarakat, aktivis, dan anggota Dewan Adat Papua menyerukan agar mereka yang bertanggung jawab diadili. “Ini bukan hanya tentang bulu burung Cenderawasih,” kata seorang tetua dari Boven Digoel. “Ini tentang jiwa kami, harga diri kami, tempat kehidupan kami di negara ini.”
Insiden ini telah memicu kembali ketegangan yang telah berlangsung lama antara Pemerintah Pusat dan masyarakat Papua, yang telah lama merasa terpinggirkan dan dieksploitasi. Para kritikus berpendapat bahwa upaya konservasi harus diimbangi dengan kepekaan budaya dan hak-hak masyarakat adat.













































Komentar