Program literasi juga terus digencarkan dengan membangun pojok-pojok baca di 26 desa/kelurahan yang ada, termasuk membangun perpustakaan daerah. Langkah tersebut juga dirasa turut berdampakdalam menurunkan angka buta aksara di Yahukimo dari sekitar 5.000 orang pada 2020 menjadi sekitar 2.000 orang para 2024.
Selain itu, Pemkab Yahukimo juga akan memprogramkan pendidikan kesetaraan untuk memperoleh ijazah Paket A,B, dan C. Langkah ini sekaligus untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Yahukimo.
“Cita-cita mendasar kami adalah bagaimana orang Yahukimo sehat, cerdas, dalam artian tahu baca dan tahu hitung agar mereka dapat percaya diri, kreatif, dan menjadi mandiri,” pungkas Didimus Yahuli.
Ketua Umum DPP Forum Komunikasi PKBM Indonesia, Tuppu Bulu Alam, mengatakan bahwa program-program pendidikan nonformal dan
informal dirancang secara fleksibel untuk memenuhi tantangan yang dihadapi peserta didik, seperti membantu masyarakat yang belum pernah mendapatkan pendidikan formal untuk mengatasi buta aksara.
“Dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal dan informal juga berbasis komunitas dengan program pendidikan keaksaraan yang juga dapat disesuaikan dengan minat peserta, sehingga mereka lebih termotivasi. Termasuk pelibatan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama seperti ustad, dai. Dengan demikian penuntasan buta aksara menjadi lebih signifikan,” kata Tuppu Bulu.
Sementara itu, Ketua Ikatan Pamong Belajar Indonesia, Eko Dadi Saputra, mengatakan bahwa peran penting pendidikan nonformal dan informal tidak hanya pada penuntasan buta aksara melalui pendidikan keaksaraan, tetapi juga para layanan pendidikan kesetaraan yang akan membantu pemerintah untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah (RLS) yang akan menentukan pada IPM Indonesia.




















































Komentar