Kegilaan yang Menyelamatkan Bangsa

Opini186 Dilihat
banner 468x60

*Negara dan Kegilaan Moral*

Negara yang sehat membutuhkan rasionalitas politik, tetapi rasionalitas itu akan kehilangan makna jika tidak disertai keberanian moral. Dalam politik modern, terlalu banyak pemimpin yang bersembunyi di balik kata “realistis”, sebuah istilah yang sering digunakan untuk membenarkan ketakutan. Mereka mengaku tak bisa melawan sistem karena “itu kenyataan politik”. Padahal, kenyataan itulah yang justru harus diubah.

banner 300250

Kegilaan yang dibutuhkan bangsa ini adalah kegilaan moral: kegigihan untuk membalikkan logika ketakutan menjadi keberanian, logika kompromi menjadi ketegasan, dan logika kekuasaan menjadi pengabdian. Dalam kerangka itu, pemimpin yang benar-benar “gila” bukanlah yang berteriak lantang di depan kamera, tetapi yang berani mengambil keputusan yang tidak populer demi kebenaran.

BACA JUGA :  Ketika Republik Disandera Bandit

Socrates pernah berkata, “The unexamined life is not worth living (kehidupan politik yang tak diperiksa nuraninya juga tak layak dijalani). Bangsa yang enggan memeriksa moral pemimpinnya akan terseret dalam ilusi kemajuan yang kosong. Kita bisa saja membangun jalan tol, jembatan, atau bandara baru, tetapi tanpa keadilan sosial dan moralitas publik, semua itu hanya hiasan atas tubuh bangsa yang sekarat.

BACA JUGA :  DANANTARA: Perawan di Sarang Penyamun

Negeri ini membutuhkan presiden yang berani melawan dirinya sendiri, yang berani kehilangan kekuasaan demi kejujuran, yang lebih takut pada sejarah daripada pada survei elektabilitas. Presiden yang “gila” karena terlalu waras untuk membiarkan bangsanya jatuh lebih dalam.

Bangsa besar tidak dibangun oleh pemimpin yang berpura-pura waras, tetapi oleh mereka yang berani “gila” dalam menegakkan kebenaran. Dalam setiap bab sejarah manusia, selalu ada tokoh yang dianggap gila oleh sezamannya, namun kemudian terbukti menjadi penyelamat bagi bangsanya.

BACA JUGA :  Sentralisasi Kekuasaan di Era Prabowo dan Ujian Keutuhan Nasional

*Kewarasan Baru untuk Indonesia*

Kita tidak kekurangan orang pintar, tapi kita kekurangan orang yang berani “gila” secara moral. Ketika politik berubah menjadi industri kekuasaan, ketika hukum kehilangan arah, dan ketika rakyat dijadikan komoditas elektoral, maka keberanian menjadi satu-satunya bentuk kewarasan yang tersisa.

Komentar